Minggu, 02 Agustus 2026

Dugaan Kelalaian Medis Mencuat, LSM APM Desak RS AR Bunda Prabumulih Evaluasi Menyeluruh Pelayanan

PRABUMULIH – Mutu pelayanan kesehatan di RS AR Bunda Prabumulih kembali menjadi sorotan tajam masyarakat, menyusul mencuatnya dugaan kelalaian medis yang dialami seorang anak asal Kabupaten PALI. Menanggapi hal tersebut, LSM Aliansi Prabumulih Menggugat (APM) meminta manajemen rumah sakit segera melakukan evaluasi menyeluruh guna menjamin kualitas layanan serta keselamatan setiap pasien.

Ketua LSM APM, Adi Susanto, SE, didampingi Ketua DPD Abi Rahmat Rizki dan Sekretaris Jenderal Rendi Barlindo, menegaskan bahwa rumah sakit selayaknya mengutamakan profesionalisme dan keselamatan pasien di atas segalanya. Menurutnya, rentetan keluhan yang muncul dalam kurun waktu satu tahun terakhir seharusnya menjadi peringatan agar pihak rumah sakit segera berbenah.

“Rumah sakit jangan hanya berorientasi pada keuntungan semata. Mutu pelayanan dan keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai masyarakat merasa dirugikan karena pelayanan yang tidak maksimal,” tegas Adi.

Kasus yang kini diperjuangkan keluarga anak asal PALI semakin memperkuat sorotan tersebut. Keluarga menduga adanya kelalaian saat proses persalinan tujuh tahun lalu yang menyebabkan anak mereka mengalami gangguan fungsi tangan hingga diduga berpotensi kecacatan. Sayangnya, upaya mediasi yang telah dilakukan belum membuahkan kesepakatan. Keluarga tetap berharap pihak rumah sakit bertanggung jawab penuh atas penanganan dan pengobatan anak hingga pulih sepenuhnya.

Praktisi hukum di Prabumulih pun menilai, persoalan ini berpotensi masuk ke ranah pidana apabila ditemukan bukti kuat adanya kelalaian yang memenuhi unsur tindak pidana.

Menyikapi situasi tersebut, APM mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat adalah aset paling berharga bagi sebuah institusi pelayanan kesehatan.

“Kepercayaan masyarakat itu dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa hilang hanya karena satu pelayanan yang buruk. Kalau keluhan seperti ini terus terjadi dan tidak segera dibenahi, masyarakat tentu akan berpikir dua kali untuk berobat di sana,” ujar Adi.

Lebih lanjut, penurunan kepercayaan publik pada akhirnya juga akan berdampak langsung pada keberlangsungan rumah sakit. Oleh karena itu, APM mendesak manajemen untuk tidak menunggu persoalan membesar sebelum melakukan perbaikan.

“Kalau masyarakat sudah kehilangan kepercayaan, jumlah pasien bisa terus menurun. Tentu ini akan merugikan rumah sakit. Karena itu, kami berharap manajemen tidak menunggu persoalan semakin besar baru melakukan evaluasi,” katanya.

APM juga meminta pembenahan menyeluruh dilakukan terhadap sistem pelayanan, mulai dari peningkatan kompetensi tenaga medis hingga penegakan disiplin terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP). Setiap dugaan pelanggaran atau kelalaian harus ditangani secara transparan dan pelakunya dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

“SOP harus benar-benar ditegakkan. Jangan hanya menjadi dokumen administrasi. Pengawasan harus diperketat agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan korban maupun keluhan masyarakat,” tegasnya.

Diharapkan, kasus ini menjadi momentum bagi RS AR Bunda Prabumulih maupun fasilitas kesehatan lainnya untuk terus meningkatkan kualitas layanan serta menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.

0 komentar: