Jumat, 28 Agustus 2026

Kecelakaan Maut di Perlintasan Pakjo Prabumulih, LSM APM Ancam Demo Besar Jika PT KAI Diam

PRABUMULIH — Perlintasan sebidang kereta api di Jalan Pakjo, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Prabumulih Timur, Kota Prabumulih, kembali berubah menjadi lokasi tragedi. Kecelakaan maut yang terjadi pada Kamis sore, 27 Agustus 2026, kembali menegaskan bahaya yang mengancam warga setiap hari di titik tersebut.

Perlintasan yang menjadi akses utama masyarakat itu sama sekali tidak dilengkapi pintu perlintasan resmi. Kondisi berbahaya ini telah berulang kali menimbulkan kecelakaan, bahkan merenggut korban jiwa.

Kali ini, Kereta Api Bukit Serelo relasi Lubuk Linggau–Palembang menabrak mobil Isuzu Panther berwarna putih yang melintas di kawasan tersebut. Peristiwa terjadi sekitar pukul 15.30 WIB dan menelan lima orang korban. Empat di antaranya meninggal dunia di lokasi, sementara satu korban lainnya dalam kondisi kritis dan mendapat penanganan medis segera.

Tragedi itu memicu kemarahan sekaligus keprihatinan mendalam. LSM Aliansi Pemuda Masyarakat (APM) langsung bersuara keras, mendesak PT Kereta Api Indonesia (Persero) segera mengambil langkah konkret dengan membangun pintu perlintasan resmi di lokasi tersebut.

“Ini sudah berkali-kali terjadi dan terus memakan korban. Kami desak PT KAI segera bangun pintu perlintasan resmi di sana. Jangan sampai ada lagi nyawa melayang sia-sia,” tegas Ketua Umum LSM APM, Adi Susanto, S.E., didampingi Ketua DPD APM, Abi Rahmat Rizki, dan Sekretaris Jenderal, Rendi Barlindo.

Adi menegaskan, keberadaan pintu perlintasan adalah kebutuhan mendesak untuk menjamin keselamatan masyarakat yang setiap hari menggunakan jalur tersebut. Keselamatan pengguna jalan wajib menjadi prioritas utama, mengingat jalur kereta api berpotongan langsung dengan jalan umum tanpa pengamanan memadai.

Ia bahkan mengancam akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran jika tuntutan ini tidak mendapat respons serius dari pihak PT KAI.

“Jika tidak ada tindakan, LSM APM akan menggelar aksi besar dan kami siap mengerahkan 5.000 massa di Stasiun KAI Prabumulih,” tegasnya dengan nada tegas.

Adi menilai PT KAI telah beroperasi dan melintas di wilayah Prabumulih selama puluhan tahun. Oleh karena itu, perusahaan wajib turut memberikan kontribusi nyata bagi keselamatan masyarakat, salah satunya melalui pembangunan fasilitas pengamanan di perlintasan sebidang.

“PT KAI melintas di sini puluhan tahun. Namun, tidak pernah ada pembangunan pintu perlintasan yang layak. Gunakanlah dana CSR-nya. Jangan hanya mencari keuntungan semata,” tegasnya.

Selain masalah keselamatan, LSM APM juga menyoroti dampak operasional kereta api terhadap arus lalu lintas warga. Keberadaan Kereta Api Babaranjang yang rangkaian gerbongnya semakin panjang dinilai kerap menyebabkan kemacetan dan antrean kendaraan yang sangat lama saat melintas.

Menurutnya, Pemerintah Kota Prabumulih dan PT KAI harus segera duduk bersama mencari solusi agar aktivitas perkeretaapian tetap berjalan lancar, namun keselamatan serta kepentingan masyarakat tidak diabaikan.

“Sudah cukup nyawa melayang sia-sia akibat perlintasan tanpa pintu. Dengarkan aspirasi masyarakat dan pemerintah. Bangun pintu perlintasan resmi guna menekan angka kecelakaan di perlintasan rel KAI yang berpotongan langsung dengan jalan warga,” pungkas Adi.

LSM APM berharap tragedi terbaru di Jalan Pakjo menjadi momen kebangkitan bagi PT KAI dan pemerintah untuk segera mengevaluasi seluruh perlintasan sebidang di Kota Prabumulih,khususnya titik yang menjadi akses utama masyarakat namun hingga kini belum memiliki sistem pengamanan yang layak.

0 komentar: